Analis : Pemerintah Perlu TIngkatkan Produksi Migas untuk Kurangi Defisit

Dollar AS. Dok; AFP.

Jakarta: Cadangan devisa Indonesia pada September mengalami penurunan ke posisi USD114,8 miliar dari USD117,9 miliar. Penurunan tersebut merupakan yang tertajam di Asia.

Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro mengatakan delapan bulan berturut-turut cadangan devisa telah terkuras USD15,4 miliar atau 11,9 persen. “Penurunan paling tajam di antara bank sentral di Asia,” kata Satria dalam keterangan tertulis, Minggu, 7 Oktober 2018.

Dirinya mengatakan penguatan USD dibarengi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan memaksa Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi. Intervensi dilakukan untuk membuat rupiah tidak makin jatuh dalam menghadapi tekanan saat ini.

Di sisi lain permintaan USD untuk impor melampaui pasokan USD yang diperoleh dari impor membuat ketidakseimbangan bagi cadangan devisa. Dia bilang salah satu yang mendorong impor tinggi dan memperbesar defisit yakni sektor migas.

Dirinya mengatakan bank sentral tidak punya pilihan lain selain melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. Sebab kenaikan harga minyak akan membuat defisit perdagangan makin bengkak dan memukul kurs. Oleh karenanya Satria berharap pemerintah bisa mengambil terobosan terbaik untuk meningkatkan produksi migas demi mengurangi defisit.

Selain itu, mantan menteri keuangan (menkeu) M Chatib Basri menyatakan pencabutan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi obat penawar instan untuk memangkas defisit sektor migas. 
Menurutnya pencabutan subsidi BBM akan mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang cukup besar sehingga rupiah bisa menguat.

“(Mencabut subsidi) Paling cepat. Karena kalau Anda naikkan BBM itu kan, sumber impor yang paling besar defisit bukan di non-minyak dan gas, tapi di minyak dan gas,” kata Chatib. 

Chatib juga menjelaskan, selama masih ada subsidi maka CAD akan terus membengkak dan mata uang rupiah akan terus melemah. Hal itu terjadi karena membengkaknya impor BBM karena masyarakat akan lebih banyak mengonsumsi BBM dengan harga murah. 

“Jadi cara solusinya adalah menurunkan konsumsi BBM. Kalau mau ngurangi konsumsi bagaimana? Harganya harus dinaikkan (cabut subsidi). Kalau harganya dinaikkan demand akan alami penurunan,” ungkap dia.

(SAW)