Pasar tidak lagi Bergejolak

Jakarta: Langkah bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga kebijakan 25 basis poin yang diikuti Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan 7-Day reverse repo rate (7-DRRR) tidak direspons berlebihan oleh pelaku pasar.

Dalam perdagangan sepekan ini, nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tidak berfluktuasi dalam rentang yang lebar. Hal itu berbeda saat kebijakan kenaikan suku bunga mulai dijalankan The Fed dan BI di awal hingga tengah tahun ini.

Bahkan, kemarin, IHSG ditutup menguat 55,94 poin atau 0,95 persen menjadi 5.929,21. Adapun rupiah melemah tipis sebesar lima poin menjadi Rp14.896 per USD dari posisi sebelumnya Rp14.891 per USD.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pasar sudah memprediksi kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed.

“Karena memang sudah diprediksi orang apa yang akan terjadi di AS itu. Sama kemudian respons yang disiapkan BI dan pemerintah,” kata Darmin di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis, 27 September 2018.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pihaknya sudah mengomunikasikan secara terus-menerus kepada pelaku ekonomi bahwa perekonomian Indonesia sangat sehat.

Menurutnya, konsistensi yang dilakukan pemerintah selama ini dalam menjaga perekonomian tetap sehat mendapatkan sinyal positif dari pelaku ekonomi.

Perekonomian Indonesia, sambungnya, cukup fleksibel dan lentur serta memiliki daya tahan untuk menghadapi perubahan yang terjadi di perekonomian global.

“Konsistensi policy menko perekonomian, fiskal, moneter, OJK, dan sektor riil itu dianggap sebagai suatu sinyal positif, dan kita akan terus lakukan itu,” tandasnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan menaikan 7-DRRR 25 bps konsisten dengan tujuan menurunkan defisit transaksi berjalan CAD dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.

“BI akan perkuat koordinasi pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal. Kami akan memperhatikan defisit transaksi berjalan , serta inflasi dan indikator lainnya untuk menetukan langkah lanjutan memastikan dan memperkuat stabilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia,” ujar Perry di Jakarta, kemarin.

Devisa Ekspor

Bank Indonesia juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk membuat rekening simpanan khusus deposito devisa hasil ekspor. Dengan demikian, pemerintah bisa mengoptimalkan devisa hasil ekspor untuk pendalam-an pasar di dalam negeri dengan tetap berdasarkan mekanisme pasar.

“Salah satunya kami memperkenalkan instrumen Domestik NDF,” jelas Perry.

Kepala Departemen Pengelolan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah menjelaskan instrumen tersebut juga bisa digunakan saat kondisi nilai tukar sedang tinggi risikonya bagi pengusaha importir.

Saat ini cadangan devisa di Bank Indonesia terus turun mencapai USD117,9 miliar. (Media Indonesia)

(AHL)