Perkuat Rupiah, BI Berlakukan DNDF

Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan memberlakukan kebijakan baru berupa transaksi domestik non deliverable forward (DNDF) untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. DNDF mempercepat pendalaman pasar valuta asing (valas) serta memberikan alternatif instrumen lindung nilai (hedging) bagi bank dan korporasi.

“Kita sudah berhasil mendorong pasar spot, pasar tunai, dan kemudian berdasarkan Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate). Kita juga sudah secara cepat menyediakan pasar swap, baik swap dalam operasi moneter maupun swap hedging dengan menerapkan biaya yang berdasarkan mekanisme pasar dan menarik. Cukup murah dalam konteks seperti itu,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 27 September 2018.

DNDF merupakan transaksi forward yang penyelesaian transaksinya dilakukan secara netting dalam mata uang rupiah di pasar valas domestik. Kurs acuan yang digunakan adalah Jisdor untuk mata uang dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah dan kurs tengah transaksi BI untuk mata uang non USD terhadap rupiah.

Transaksi DNDF dapat dilakukan oleh bank dengan nasabah dan pihak asing untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar rupiah, dan wajib didukung underlying atas transaksi berupa perdagangan barang dan jasa, investasi, dan pemberian kredit bank dalam valas.

“Dengan demikian kebutuhan untuk valas tidak harus semua dipenuhi melalui pasar tunai spot-nya, yang punya valas butuh rupiah bisa menggunakan swap sehingga kebutuhan valas ke depannya terpenuhi,” bebernya.

Menurut Perry, pengusaha yang membutuhkan rupiah bisa terpenuhi dengan biaya menarik. Sementara bagi korporasi dan perbankan yang membutuhkan lindung nilai, Perry meminta tak perlu ‘memburu’ USD di pasar spot dan bisa membeli di forward dengan DNDF.

“Kalau forward-nya yang selama ini harus di-settle, diselesaikan secara gross dan juga ada perpindahan dana. Dengan DNDF itu penyelesaiannya dilakukan secara netting dan tidak harus dengan perpindahan dana,” jelas dia.

Pun bagi investor asing. Ketika mereka ingin menarik dananya, investor asing tidak harus membeli secara spot.

“Bisa keluar hari ini, bulan depan masuk lagi bisa. Itu bisa membeli secara forward. Ini konteks langkah-langkah yang dilakukan untuk menstabilisasi nilai tukar,” pungkas Perry.

Transaksi DNDF akan diatur melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang akan dikeluarkan pekan depan. Transaksi DNDF berlaku sejak otoritas mengeluarkan beleid tersebut.

(AHL)